Minggu, 16 Agustus 2020

Di tiga kota itu

Di kota pertama, 

Sebagaimana biasa matahari muncul lebih awal di musim panas. Suara burung camar mulai ramai menerobos jendela berbingkai putih, kontras dengan langit biru. Perlahan kubuka jendela yang segera menyatukan kami dengan hiruk pikuk kota, dan suara-suara. 

Ah, sudah pagi

Mataku yang senang mengikuti garis-garis pemisah batu, bergantian melihat temanku. 
Kami bercerita tentang banyak hal, tentang dunia dan kami berdua. 

Jalan berbatu dalam sekejap berganti aspal, kami menyebrangi jalan kecil yang tetiba saja dilintasi motor bising. Perjalanan ke stasiun kereta tidak begitu berkesan kecuali karena percakapan.

Hening karena sama-sama lelah berbicara. Langkah kaki membawa kami memasuki terowongan, mencari tangga menuju peron. Angin begitu kencang, kanan-kiri tidak ada orang.

Merasa tidak sepi meski sama-sama sedang diam
Tenggelam dalam pikiran masing-masing 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tiba di kota kedua,

Bangunan warna putih memantulkan cahaya sana-sini. 

Kota ini disebut mutiara

Pak tua pasti senang melihat liuk balkon yang menyerupai haluan kapal itu ada dimana-mana. Apalagi warnanya yang putih seperti villanya di ujung Perancis yang entah kapan bisa kukunjungi itu.

Wangi laut dan lembab udara, hembus angin yang kuatnya menerbangkan aku, temanku, dan rok kami berdua. Kami berjalan meramaikan trotoar yang sepi dengan gelak tawa entah karena apa. 

Sampai di dekat laut. Kembali burung camar bersautan, ramai, berlomba dengan angin dan ombak. 
Dan matahari tepat di atas kepala

lalu hening.

ombak diluar tak lagi terdengar
sibuk, pikiranku sibuk
mendengar jiwa sendiri
pikiran sendiri

Sesaat aku seperti berganti dimensi
Perlahan hembus angin menyatukan kembali

Kudengar deru ombak, angin berdesir meniup rambut. Pasir hangat menyentuh kulit, juga sentuhan air dan bebatuan yang hangat karena siang. Ah, aku utuh lagi.

Suara burung camar perlahan menyadarkan. Kulihat jarum jam menandakan pukul dua. 
Berlarian kami sambil tertawa. Sudah saatnya pergi mengejar kereta ke kota ketiga. 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kota terakhir,  

Kotanya ramai, penuh manusia berkeringat dan kepanasan. Galeri seni dan toko souvenir memenuhi jalan, juga anjing-anjing berlarian berkejaran seperti di taman. 

Sampai habis dua batang rokokku, di jalan kami berhenti. Meneduhkan diri dan bicara lagi. 
Berteman eskrim, pai, dan es kopi.

Sepertinya aku akan kesini lagi. 
Mungkin.

Lalu kuseruput kopi. 
Juga mengakhiri cerita ini. 


Minggu, 19 Juli 2020

Aku

Ketika aku melepaskan aku dalam diriku
Aku menjadi aku

Melebur lalu hancur
Menjadi aku

Puing-puing berserak
Luka berdarah-darah
Namun perlahan terobati 
Tersusun kembali

Ketika aku melepaskan aku dalam diriku
Aku menjadi aku

Sayap tumbuh 
Kubawa terbang tinggi
Lalu jatuh
Tapi aku tak mati

Hei, apa maumu?

Semesta bilang,

Agar aku menjadi aku

Dan aku menjadi aku
- S.N

Kamis, 13 November 2014

Menjadi

Butir hujan turun
Gaduh seketika
Bulirnya menghempas bumi dengan sukacita

Butir hujan jatuh

Menanggalkan sayap sayap di atas awan
Ya, jatuh

Di bumi, mereka menjadi aku


Jadi tumbuhan

Jadi hewan
Jadi sungai
Jadi laut

Lalu aku mengerti

Mereka tidak jatuh
Tapi menjadi

Minggu, 26 Mei 2013

Cerita, dan jalan

Di bawah langit sore, jingga berhias awan putih berarak. Kususuri tapak batu demi menuju tempat yang lama tak kusinggahi. Tangan kananku menjinjing tas plastik, sesuatu yang harus kuberikan ketika aku sampai di tempat yang kutuju.

Kunikmati perjalanan sambil melihat rerimbunan pohon di sekelilingku. Sengaja kuhentikan langkah kaki untuk menatap langit sore sembari melayangkan lamunan. Desir angin sore itu menerbangkan dedaunan yang tanpa sengaja mengenai rambutku yang sebahu.  Membuyarkan lamunanku sesaat. Sayup-sayup aku mendengar suara orang mengaji di surau, tanda tujuanku sudah dekat.

Kulanjutkan langkah kaki menapaki bebatuan yang kini berganti dengan sederetan panjang jalan setapak kayu tua. Genangan air yang tergenang di cekungan kayu tak rata membasahi sandal dan jemari kakiku. Kutahan keluhan dalam hati, karena bukan air yang salah, bukan hujan, bukan pula cekungan kayu yang menampung air secara tak sengaja, aku saja yang tak hati-hati melangkah.

Tak lama berselang, dalam suasana yang terasa begitu familiar, dari kejauhan kulihat rumah kayu yang tak lagi bisa berdiri tegak. Di depannya tengah duduk seorang kakek tua yang menatapku dengan tatapan kosong. Aku berhenti sejenak, tersenyum dan memberi salam pada kakek tua itu. Sembari tersenyum menunjukkan sederetan gigi yang tak lengkap, kakek tua itu menyapa dengan gumaman lirih. Aku mengangguk sedikit, tersenyum, dan melanjutkan perjalananku.

Jalan setapak kayu tua yang sejak tadi kususuri itu kini mengarah pada sebuah tanah lapang yang cukup luas. Tanah itu ditumbuhi rumput liar dan beberapa bunga kecil yang cantik. Dengan sedikit melompat, aku melangkahkan kaki turun dari jalan kayu, mendaratkan kakiku ke tanah gembur yang basah sehabis hujan. Kupegang erat-erat tas plastik itu dengan tangan kanan, sedang tangan kiri sibuk menyibakkan rumput liar setinggi pinggang.

Langkahku tiba-tiba terhenti. Tak sampai lima menit, aku sudah sampai di tempat tujuanku. Kini mataku tertuju pada batu nisan yang berdiri tegak di antara rerumputan dan nisan-nisan lainnya. 

Aku mendekat, berlutut sambil meletakkan tas plastik di sampingku. Tak dapat kubendung rasa rindu yang memenuhi dada, meski tak pernah sekalipun aku melihat wajahnya. Kubuka ikatan tali plastik yang kubawa sejak tadi, mengambil segenggam bunga dan menaburkannya di atas tanah, setelah sebelumnya kubersihkan rumput-rumput liar yang menjalar hingga hampir menutupi nisan.

Kupejamkan mataku sejenak, merasai kesendirian. Pelupuk mataku tak mampu menampung butiran air yang ingin lekas turun membasahi pipi. Menyadari, kehidupan, hanyalah ruang di antara kelahiran dan kematian. Mungkin aku akan diingat, mungkin juga dilupakan. 

Atau mungkin akan ada lagi seseorang yang berjalan di bawah langit sore, jingga berhias awan putih berarak. Untuk bertemu denganku.


s.n 

Senin, 27 Agustus 2012

Senja dan entah bagaimana

kupikir rumah adalah tempat

mungkin aroma
yang dirindukan ketika melintasi
deretan kedai makanan
seperti wangi kopi 

mungkin ingatan
saat menyebrang sungai
atau perasaan yang menggelitik 
ketika ombak melambungkan sampan

mungkin hati manusia
yang entah bagaimana
ketika terbuka
akan menelan semuanya

entah bagaimana