Di kota pertama,
Sebagaimana biasa matahari muncul lebih awal di musim panas. Suara burung camar mulai ramai menerobos jendela berbingkai putih, kontras dengan langit biru. Perlahan kubuka jendela yang segera menyatukan kami dengan hiruk pikuk kota, dan suara-suara.
Ah, sudah pagi
Mataku yang senang mengikuti garis-garis pemisah batu, bergantian melihat temanku.
Kami bercerita tentang banyak hal, tentang dunia dan kami berdua.
Jalan berbatu dalam sekejap berganti aspal, kami menyebrangi jalan kecil yang tetiba saja dilintasi motor bising. Perjalanan ke stasiun kereta tidak begitu berkesan kecuali karena percakapan.
Hening karena sama-sama lelah berbicara. Langkah kaki membawa kami memasuki terowongan, mencari tangga menuju peron. Angin begitu kencang, kanan-kiri tidak ada orang.
Merasa tidak sepi meski sama-sama sedang diam
Tenggelam dalam pikiran masing-masing
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tiba di kota kedua,
Bangunan warna putih memantulkan cahaya sana-sini.
Kota ini disebut mutiara
Pak tua pasti senang melihat liuk balkon yang menyerupai haluan kapal itu ada dimana-mana. Apalagi warnanya yang putih seperti villanya di ujung Perancis yang entah kapan bisa kukunjungi itu.
Wangi laut dan lembab udara, hembus angin yang kuatnya menerbangkan aku, temanku, dan rok kami berdua. Kami berjalan meramaikan trotoar yang sepi dengan gelak tawa entah karena apa.
Sampai di dekat laut. Kembali burung camar bersautan, ramai, berlomba dengan angin dan ombak.
Dan matahari tepat di atas kepala
lalu hening.
ombak diluar tak lagi terdengar
sibuk, pikiranku sibuk
mendengar jiwa sendiri
pikiran sendiri
Sesaat aku seperti berganti dimensi
Perlahan hembus angin menyatukan kembali
Kudengar deru ombak, angin berdesir meniup rambut. Pasir hangat menyentuh kulit, juga sentuhan air dan bebatuan yang hangat karena siang. Ah, aku utuh lagi.
Suara burung camar perlahan menyadarkan. Kulihat jarum jam menandakan pukul dua.
Berlarian kami sambil tertawa. Sudah saatnya pergi mengejar kereta ke kota ketiga. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kota terakhir,
Kotanya ramai, penuh manusia berkeringat dan kepanasan. Galeri seni dan toko souvenir memenuhi jalan, juga anjing-anjing berlarian berkejaran seperti di taman.
Sampai habis dua batang rokokku, di jalan kami berhenti. Meneduhkan diri dan bicara lagi.
Berteman eskrim, pai, dan es kopi.
Sepertinya aku akan kesini lagi.
Mungkin.
Lalu kuseruput kopi.
Juga mengakhiri cerita ini.