Di bawah langit sore, jingga berhias awan putih berarak. Kususuri
tapak batu demi menuju tempat yang lama tak kusinggahi. Tangan kananku
menjinjing tas plastik, sesuatu yang harus kuberikan ketika aku sampai di tempat yang kutuju.
Kunikmati perjalanan sambil melihat rerimbunan pohon di sekelilingku. Sengaja kuhentikan langkah kaki untuk menatap langit sore sembari melayangkan lamunan. Desir angin sore itu
menerbangkan dedaunan yang tanpa sengaja mengenai rambutku yang sebahu. Membuyarkan lamunanku sesaat. Sayup-sayup aku mendengar suara orang mengaji di surau, tanda tujuanku sudah dekat.
Kulanjutkan
langkah kaki menapaki bebatuan yang kini berganti dengan sederetan
panjang jalan setapak kayu tua. Genangan air yang tergenang di cekungan
kayu tak rata membasahi sandal dan jemari kakiku. Kutahan keluhan dalam hati, karena bukan air yang salah, bukan hujan, bukan pula cekungan kayu yang menampung air secara tak sengaja, aku saja yang tak hati-hati melangkah.
Tak lama berselang, dalam suasana yang terasa begitu familiar, dari kejauhan kulihat rumah kayu
yang tak lagi bisa berdiri tegak.
Di depannya tengah duduk seorang kakek tua yang menatapku dengan tatapan
kosong. Aku berhenti sejenak, tersenyum dan memberi salam pada kakek
tua itu. Sembari tersenyum menunjukkan sederetan gigi yang tak lengkap, kakek tua itu menyapa dengan gumaman lirih. Aku mengangguk sedikit, tersenyum, dan melanjutkan perjalananku.
Jalan setapak kayu tua yang sejak tadi kususuri itu kini mengarah pada sebuah tanah lapang yang cukup luas. Tanah itu ditumbuhi rumput liar dan beberapa bunga kecil yang cantik. Dengan sedikit melompat, aku melangkahkan kaki turun dari jalan kayu, mendaratkan kakiku ke tanah gembur yang basah sehabis hujan. Kupegang erat-erat tas plastik itu dengan tangan kanan, sedang tangan kiri sibuk menyibakkan rumput liar setinggi pinggang.
Langkahku tiba-tiba terhenti. Tak sampai lima menit, aku sudah sampai di tempat tujuanku. Kini mataku tertuju pada batu nisan yang berdiri tegak di antara rerumputan dan nisan-nisan lainnya.
Aku mendekat, berlutut sambil meletakkan tas plastik di sampingku. Tak dapat kubendung rasa rindu yang memenuhi dada, meski tak pernah sekalipun aku melihat wajahnya. Kubuka ikatan tali plastik yang kubawa sejak tadi, mengambil segenggam bunga dan menaburkannya di atas tanah, setelah sebelumnya kubersihkan rumput-rumput liar yang menjalar hingga hampir menutupi nisan.
Kupejamkan mataku sejenak, merasai kesendirian. Pelupuk mataku tak mampu menampung butiran air yang ingin lekas turun membasahi pipi. Menyadari, kehidupan, hanyalah ruang di antara kelahiran dan kematian. Mungkin aku akan diingat, mungkin juga dilupakan.
Atau mungkin akan ada lagi seseorang yang berjalan di bawah langit sore, jingga berhias awan putih berarak. Untuk bertemu denganku.
s.n
masya Allah alur ceritanya bagus sheil, membuat pembaca seakan-akan menyaksikan langsung
BalasHapussemoga bisa terus mengembangkan bakat nulisnya sheil :)
Aamiin
BalasHapusSemoga Alloh SWT mengabulkan